Senin, 09 Juli 2012

Klub-klub Eropa Berebut Datang ke Indonesia



Masih teringat ketika klub elite dari Inggris, Manchester United yang hampir meladeni timnas Indonesia 2 tahun lalu, gagal dengan alasan kondisi Indonesia yang tidak aman karena terjadi ledakan bom di beberapa wilayah pada saat itu. padahal persiapan sudah sangat matang, kecewa berat pastinya, karena hampir semua  warga Indonesia, bermimpi didatangi klub papan atas Eropa yang berkali-kali menyabet piala baik diliga maupun di kompetesi Eropa tersebut, bermimpi bisa melihat aksi para bintang-bintangnya langsung, bukan lewat layar kaca lagi, namun semuanya pupus dalam waktu singkat.
Setalah LA Galaxi, klub dari benua Amerika datang dengan para bintangnya, Seperti David Beckham dan Donovan, mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Indonesia pada 30 November 2011 lalu, seolah-olah menjadi pancingan buat klub-klub Eropa untuk datang ke Indonesia, dan sebelumnya pada 4 September 2011 para mantan bintang klub AC. Milan juga datang dalam laga amal melawan Indonesia All Star, mantan pemain legenda top AC Milan seperti Nelson Dida, Alesandro Costacurta, Paolo Maldini, Franco Baresi, Cafu, Masimmo Taibi, Christian Panucci, Roberto Mussi, Giuseppe Favalli, Giuseppe Pancaro, Gigi Lentini, Angelo Carbone, Serginho, Daniele Massaro, George Weah, Roberto Lorenzini, Boban, Bierhoff dan lainnya.
Liverpool misalnya, klub Inggris tersebut rencananya akan berkunjung ke Indonesia untuk menyapa pendukungya yang berada di tanah air dengan menggelar pertandingan persahabatan dengan timnas Indonesia pada 9 Mei 2012 dan melawan klub asal Surabaya, Persebaya pada tanggal 12 Mei 2012 yang rencananya akan di helat di Gelora Bung Karno, namun dibatalkan dari pihak Liverpool dengan tidak mencantumkan alasanya pada surat (pembatalan). Setidaknya kita bangga karena klub dari Inggris tersebut sudah mau datang walaupun dibatalkan.
Kemudian klub dari Italia yang kepincut untuk datang ke Indonesia, Inter Milan adalah klub tersebut, dalam rangkaian tur bertajuk FC Internaziale Indonesia tour2012, tim milik Massimo Moratti itu akan menggelar dua pertandingan yakni melawan liga selection pada tanggal 24 Mei 2012 serta melawan Indonesia selection pada tanggal 26 Mei 2012 di Stadion utama Gelora Bung Karno.
Masih banyak lagi, menurut kabar, seperti Real Madrid, klub maha kaya yang menjuarai liga Champion Eropa terbanyak tersebut juga bakal datang ke Indonesia pada bulan Juni/Juli 2012. Juventus, klub yang pernah memenangi liga italia sebanyak 29 kali itu juga akan didatangkan meskipun masih tahap negosiasi. Barcelona, Klub fenomenal yang akhir-akhir ini akrab dengan gelar baik diliga maupun di Eropa ini juga masih dalam tahap negosiasi. Kemudian klub-klub liga Inggris seperti Sunderland, Wolverhampton, Bolton juga siap didatangkan.
Semoga ini awal manis bagi sepakbola Indonesia yang akhir-akhir ini banyak masalah yang tidak kunjung reda, dan berharap dengan datangnya banyak klub Eropa ke Indonesia bisa memberikan inspirasi bagi insan sepakbola tanah air agar lebih berprestasi.

Sumber : Kompasiana

Minggu, 08 Juli 2012

Berwisata murah di Mesir dengan kartu pelajar



Mempunyai kartu pelajar menurut sebagian orang adalah hal yang biasa-biasa saja, karena tidak semua sekolah memfungsikanya dengan baik, terkadang kartu pelajar menjadi identitas penting sebagai syarat untuk masuk ujian tapi tidak sedikit yang menjadi penghias dompet atau sekedar seperti cindera mata sekolah, lain lagi di Mesir, kartu pelajar seolah-olah menjadi kartu sakti, kartu serbaguna, selain sebagai alat untuk memasuki ujian sekolah, kartu pelajar juga bisa sebagai wakil pasport (izin tinggal), tidak itu saja, dengan kartu pelajar berwisata di Mesir menjadi lebih murah.
Di Mesir Mempunyai status pelajar atau mahasiswa sangatlah istimewa, karena mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, misalnya, buku-buku murah bersubsidi, banyak perpustakaan yang sangat mudah di akses dan memberikan harga khusus bagi pelajar atau mahasiswa yang ingin mengunjungi tempat-tempat wisata.
Jalan-jalan di Mesir jangan sampai lupa untuk membawa kartu pelajar, karena tempat-tempat wisata biasanya menyediakan dua macam tiket, tiket biasa dan tiket pelajar, untuk tiket pelajar cukup dibayar setengah dari harga tiket biasa, meski ada juga beberapa tempat wisata yang tidak menerapkan hal semacam itu, biasanya tempat-tempat yang bisa dibayar setengah dengan menggunakan kartu pelajar adalah tempat-tempat yang mengandung sejarah atau berbau pendidikan.
Setengah tahun yang lalu, kami sekeluarga mengunjungi kota Alexandria selama tiga hari, banyak tempat-tempat wisata yang kami singgahi. kami harus membayar tiket “full” ketika mengunjungi Muntaza park, taman indah yang didalamnya terdapat istana peninggalan raja Faruq,  meskipun kami membawa kartu pelajar, lain lagi saat kami mengunjungi perpustakaan Alexandria, perpustakaan yang pempunyai simpanan buku-buku yang usianya ratusan tahun, Masroh Rumani, tempat pertunjukan yang berbentuk sepertiColosseum Roma, benteng Qoitbay, benteng pertahanan laut Mediterania yang dibuat pada abad ke-15, kami cukup membayar setengah harga tiket kerena membawa kartu pelajar, ada juga tempat gratis yang kami kunjungi seperti makam nabi Danial dan makam Imam Busyiri pengarang ”burdah”.
Tidak itu saja, ketika kami mengunjungi museum dimana tempat mayat Fir’aun disimpan, kami hanya membayar setengah harga, di piramid Giza dan Dahshur pun begitu, biasanya petugas akan menenpel daftar tiket masuk didepan loket, jadi pengunjung yang harus melapor kalau dia pelajar, jika hanya diam sudah pasti akan diberikan tiket biasa bukan tiket pelajar yang mendapat potongan harga.
Pemerintah mesir juga mempunyai program wisata untuk pelajar dan mahasiswa asing yang tinggal di Mesir, dimana pelajar atau mahasiswa bisa berkunjung ketempat-tempat tertentu dengan harga terjangkau dengan fasilitas kelas satu. misalnya, kita akan diajak keliling ke ibu kotanya Mesir kuno (1550-1069 SM), Pharaoh Amenhothep, selama kurang lebih 4 hari, sisanya, 3 hari mengunjungi Aswan, sebuah bendungan indah yang berada diperbatasan Mesir dan Sudan. Selama perjalanan peserta akan di servis habis-habisan, mulai dari kendaraan terbaik sampai hotel bintang lima, untuk mengikutinya tidak sulit, cukup mendaftarkan ke Nadi Wafidin dengan membayar uang pendaftaran yang sangat murah serta menyertakan kartu pelajar.
Berharap Indonesia bisa seperti Mesir yang memanjakan calon pemimpin-pemimpinya pada saat masih dibangku belajar dengan memberikan fasilitas cuma-cuma seperti, sekolah gratis, buku murah dan memberikan fasilitas untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah dengan mudah. Amin..

Sumber : Kompasiana

Islam Di Mesir Lebih Cocok Untuk Indonesia Dari Pada Islam Di Saudi Arabia



Memiliki predikat Islam terbesar didunia belum menjadikan muslim Indonesia menjadi muslim yang dewasa, terbukti masih banyaknya muslim yang menyalahkan muslim lainya hanya karena berbeda pemahaman, yang sholat memakai do’a qunut menyalahkan yang tidak memakai do’a qunut atau sebaliknya, yang tidak suka tahlilan mengolok-olok yang suka tahlilan.
Terkadang prihatin melihat beberapa muslim yang gampang sekali mengatakan ini haram dan itu haram, ini bid’ah dan itu bid’ah kepada muslim lain yang berbeda pemahaman,  mereka juga berpendapat apa-apa yang tidak ada pada zaman nabi Muhammad SAW semua itu bid’ah, celana jean, kemeja dan pakaian yang sering kita pakai itupun ada yang mengatakan bid’ah, serumit itukah agama islam, pikir saya.
masih banyak muslim Indonesia yang tinggal didesa sebelah timur sholat jum’at dimasjid sebelah barat dan yang tingggal didesa sebelah barat sebaliknya, hanya karena berbeda pemahaman, kemudian saya mendapati ada kelompok yang masjidnya dipel karena sudah dipakai sholat oleh kelompok lain yang tidak sefaham. itulah potret Islam di Indonesia yang jauh dari kata dewasa dan belum bisa mengahargai sesama.
Seharusnya dengan banyaknya kelompok-kelompok Islam di Indonesia menjadikan keindahan islam itu sendiri seperti kata nabi Muhammad SAW “Ikhtilafu Ummaty Rahmatun”, yang artinya perpedaan kaumku adalah rahmat, bukan menjadi sebab timbulnya perpecahan antar umat Islam seperti yang terjadi di Indonesia pada saat ini.
Perlu ditanamkan slogan “kerjasama tentang yang sepakat dan saling menghargai yang tidak sepakat” disetiap kepala umat Islam di Indonesia agar tidak mudah untuk menyalahkan yang lainya.
Masih ingat betul apa yang dikatakan KH. Musthofa Bisri dalam acara Kick Andy, Islam itu mempunyai kelas layaknya sekolahan, ada playgroup, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar hingga program doktoral, yang masih suka menyalahkan sesama dan yang masih suka kekerasan dalam beragama itu orang-orang yang betul-betul belum faham agama dan tingkatanya masih taman kanak-kanak, berarti kesimpulanya bahwa Islam di Indonesia masih kekanak-kanakan.
Muslim di Indonesia masih harus banyak belajar, kepada siapa? tentunya kepada negara-negara yang banyak orang alimnya, seperti Saudi Arabia, Mesir, Syiria, yaman atau yang lainya.
Sekilas tentang Islam Di Saudi Arabia, Pemerintah Saudi Arabia andil besar dalam menentukan faham Islam yang bagaimana untuk warganya, bahkan bisa dikatakan hampir seluruh warga Saudi Arabia menganut satu faham saja, bisa anda buktikan ketika berkesempatan untuk berkunjung kesana, cara ibadah mereka sama persis antara orang satu dengan yang lainya, antara masjid satu dengan masjid yang lainya, kalau istilah orang Indonesia mereka berfaham Wahabi, dan ini tidak cocok untuk orang Indonesia yang notabene ada di negara yang menjunjung tinggi nilai demokrasi.
Berbeda jauh dengan Mesir, jika anda berkesempatan berkunjung kesana, anda akan mendapatkan Islam yang sama dengan Islam Indonesia meski Mesir jauh lebih baik.
Ketika sholat di Masjid, kami menemukan banyak sekali perbedaan-perbedaan dalam gerakan sholat antara satu dan yang lainya meski sholatnya bersamaan, terkadang pakai do’a qunut dan terkadang tidak tergantung imamnya.
Orang Mesir kebanyakan mengikuti madzhab Imam Syafii, tidak sedikit juga yang mengikuti madzhab Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi.
Thoriqoh syadziliyah, naqsabandiyah dan lainya juga ada di Mesir layaknya thoriqoh yang ada di Indonesia, ketika Ramadhan, ada yang sholat tarawihnya delapan rakaat dan ada juga yang Dua Puluh rakaat.
Orang Mesir sangat menghormati perbedaan, jangankan sesama yang berbeda pemahaman, berbeda agamapun mereka saling menghormati.
Semoga Muslim Indonesia bisa belajar banyak dari Muslim Mesir, tidak ada lagi saling menyalahkan sesama, dan tidak ada lagi kabar pembakaran atau pengrusakan tempat ibadah.

Sumber : Kompasiana

Sabtu, 07 Juli 2012

Presiden Soekarno Abadi di Mesir Sebagai Nama Jalan



Nama presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang biasa dipanggil bung karno bukanlah nama asing bagi warganya, hal itu wajar, tapi jika nama tersebut sangatlah terkenal diluar negeri bahkan di abadikan sebagai nama jalan yang setiap hari terlihat oleh lalu lalang orang yang melewatinya itu sungguh luar biasa.
Meski Mesir bukanlah satu-satunya negara yang mengabadikan nama Soekarno sebagai nama jalan, ada juga di Maroko dan Pakistan. Kecintaan masyarakat Mesir terhadap Soekarno sangatlah besar, tidak hanya sebagai nama jalan bahkan ada juga buah mangga yang namanya mangga Soekarno, konon katanya presiden Indonesia pertama itulah yang membawa bibitnya.
Jalan Soekarno tersebut bersebelahan dengan jalan Sudan yang terletak di daerah Kit-Kat Agouza Geiza dipinggiran kota Cairo. Tertulis Syari’ Ahmed sokarno atau jalan Ahmad Soekarno di papan warna biru tua berbentuk persegi panjang yang menunjuk kesalah satu ruas jalan di Geiza.
Adapun nama Ahmed Sokarno adalah hasil penambahan dari mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir pada waktu itu, untuk memperkuat nuansa keislaman sehingga menarik perhatian masyarakat Mesir bahwa presiden Indonesia beragama Islam. seragam dengan nama wakilnya yang di awali dengan Muhammad, lengkapnya Muhammad Hatta. keduanya Ahmad dan Muhammad merupakan nama-nama islami.
Pada tahun 1945, para mahasiswa Mesir sedang giat-giatnya melobi serta mendekati para pejabat dan masyarakat Mesir agar bersedia memberikan pengakuan kemerdekaan terhadap Indonesia, karena pasca proklamasi 17 Agustus 1945 belum ada satupun pengakuan dari negara lain, padahal syarat berdirinya negara, diantaranya adalah pengakuan Internasional. Perjuangan Mahasiswa Indonesia di Mesir tidaklah sia-sia, Mesir tercatat sebagai negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia.
10 tahun pasca kemerdekaan, presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya di Mesir. Tepat hari senin, 18 Juli 1955. Kunjungan tersebut mendapat sambutan luar biasa, baik dari perdana menteri Gamal Abdel Nasser dan jajaran pejabat pemerintah maupun masyarakat Mesir pada umumnya.




Setelah kunjungan pertamanya, Presiden Soekarno sering berkunjung ke Mesir, tercatat 6 kali presiden pertama Indonesia tersebut mengunjungi negeri seribu menara ini, pada tahun 1955, 1958, 1960, 1961, 1964 dan terakhir 1965. Tidaklah heran, jika seringnya berkunjung ke Mesir membuat nama presiden Soekarno begitu harum dimata pemerintah dan masyarakat Mesir, sehingga namanya diabadikan sebagai nama jalan di Mesir.


Sumber : Kompasiana

Jumat, 06 Juli 2012

Piramid: Menarik bagi orang asing, tapi tidak untuk orang Mesir



Di Mesir, pekan ini bukanlah hal yang biasa dimana semua orang berbondong-bondong ketempat wisata untuk berlibur. Libur nasional kali ini untuk memperingati datangnya musim semi yang biasa di sebut “Sammun Nasim”. Setelah melewati musim gugur disusul musim dingin, Mesir kelihatan lebih cantik saat ini, pohon-pohon mulai tumbuh daunya dan bunga-bungapun mulai bermekaran warna-warni sepanjang jalanan kota.
Tidak hanya orang Mesir yang menikmati liburan kali ini, kami sekeluarga juga tidak mau melewatkannya. Meluncur ke “Ainus Suhna” menggunakan mobil pribadi dengan jarak tempuh sekitar 120 Km dari kota Kairo, membuat kami tidak sabar untuk segera sampai dipantai “Ainus Suhna” yang bersambungan dengan terusan Suez tersebut.
Sesampai ditempat tujuan, kami mendapati pantai yang tertutup, berkomplek-komplek seperti layaknya  perumahan, ketika ingin masuk pantai harus juga menyewa hotel atau rumah minimal sehari. ketika sudah diputuskan untuk menyewa hotel sebagai sarat masuk pantai, kami harus kecewa untuk kedua kalinya karena semua hotel yang ada sudah penuh, “Ahsan Agazah” yang artinya sekarang lagi hari libur, harusnya hotel dipesan seminggu sebelumnya, kata petugas pantai di sana.
Kami segera kembali ke kairo dan menuju tempat wisata lainya, kali ini bukan pantai yang dituju melainkan masjid tua peninggalan Dinasti Fatimiyah yang masih kelihatan megah sampai saat ini yaitu masjid Hakim Bi Amrillah, Masjid ini dibangun tidak lama setelah Masjid Al-Azhar, bentuk dan desainya juga hampir sama, setelah keliling dan mengambil gambar, kami kembali kerumah.
Keesokan harinya kami menuju kota “Dahshur”, yang terletak dipinggiran kota Kairo sebelah Timur kota Sakara dan Geiza, piramid adalah tujuanya kali ini, meski bukan piramid terbesar seperti halnya di Geiza, piramid Dahshur cukup menarik karena memiliki bentuk yang unik tidak seperti lazimnya piramid-piramid lainya, di “Dahshur” ini piramidnya biasa disebut pyramida bengkok.


Memasuki kawasan piramid, kami disambut petugas yang memakai pakaian polisi, dengan ramah dia menanyakan identitas kami dan kemudian mengarahkan ke loket tempat pembayaran tiket masuk, “Ana Tholib” yang artinya saya pelajar, kami membuka percakapan dengan petugas loket tersebut, “Fein Bithoqoh?” mana kartu pelajarmu?, kami menunjukkan dua kartu pelajar yang kami punya, “Masyi” Oke, kata petugas, kami hanya membayar setengah harga 15 LE perorang yang harusnya 30 LE.
Turun dari mobil, kami langsung naik piramid dan ditengah-tengah ada pintu kecil untuk masuk, sambil merunduk kami menuruni jalan terjal yang jauh kebawah dan melewati lorong-lorong kecil baru sampai kesebuah ruangan besar yang pengap, belum salesai sampai situ dipojok ruangan terdapat tangga naik yang tinggi menuju sebuah ruangan, disitulah tempat mumi di kubur.

Pengunjung pada waktu itu tidaklah banyak hanya sekitar 25 dan semua orang asing padahal hari itu adalah “Sammun Nasim” hari peringatan datangnya musim semi, yang hampir semua masyarakat Mesir pergi berlibur tapi tidak satupun terlihat di daerah sekitar piramid tersebut. padahal satu hari sebelumnya pantai “Ainus Suhna” penuh dan taman-taman yang kami lihat sepanjang jalan juga penuh seperti lautan orang.


Sepertinya orang Mesir lebih suka menghabiskan liburannya dipantai dan taman-taman karena lebih  cocok untuk menjadi tempat santai bersama keluarga, tidak seperti piramid yang tandus, panas dan berdebu, itulah yang ada difikiran kami mengapa orang Mesir lebih memilih pantai dan taman dari pada piramid, lain lagi dengan wisatawan asing yang jauh-jauh ke Mesir sengaja ingin melihat salah satu keajaiban dunia tersebut.

Sumber : Kompasiana


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India