Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lokal. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Pentingnya Ramadhan bagi yang kaya dan yang miskin



Bulan Ramadhan memberikan banyak hal kepada manusia, selain menjadi tempat berlatih menahan makan, minum dan hawa nafsu, Ramadhan juga memberi kesempatan manusia untuk berbuat baik dengan iming-iming melipat gandakan pahala, jadi tidak heran jika banyak manusia yang berlomba-lomba meningatkan semua amal ibadahnya seperti : lebih rajin shalatnya, lebih tekun baca Al-qur'anya dan lebih banyak mengeluarkan sedekah pada bulan Ramadhan.
Dibalik harta orang kaya tersimpan hak orang miskin, seperti yang telah dijelaskan dalam agama, bahwa setiap harta yang sudah sampai batasan nishob (ukuran) dan batas haul (waktu) maka wajib dikeluarkan zakatnya, tidak hanya itu setiap orang Islam yang mampu, diwajibkan membayar zakat fitrah pada bulan Ramadhan sebagai pembersih diri dan seabagai rizki bagi orang miskin.
Pentingnya Ramadhan bagi orang kaya adalah terbukanya kesempatan untuk mendapat janji-janji allah yang sangat luar biasa. Salah satu pintu dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar di bulan Ramadhan melalui sedekah. Islam menganjurkan umatnya untuk bersedekah terlebih-lebih pada bulan Ramadhan.
Rasulullah memberikan teladan dalam bersedekah dibulan Ramadhan, karena bersekah dibulan tersebut lebih besar pahalanya dibanding bulan lainya. Diantara keutamaan sedekah dibulan Ramadhan, Pertama, Sedekah dapat menghapus dosa, kedua, Sedekah memberi keberkahan pada harta, ketiga, Allah akan melipatgandakan pahala orang yang bersedekah, Keempat, Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur. dan masih banyak lagi.
Begitu-banyak janji-janji allah kepada orang yang mempunyai harta lebih dan mau membagi kepada orang yang membutuhkan, tidak hanya janji untuk kesenangan di akhirat tapi juga janji untuk kesenangan dunia.
Kemudian apa pentingnya Ramadhan bagi orang miskin, ketika bulan Ramadhan banyak para dermawan mengeluarkan sebagian hartanya untuk disedekahkan kepada orang yang membutuhkan, ini dapat menjaga kelangsungan hidup orang miskin atau dengan kata lain sebagai rizki orang miskin.

Sumber : Kompasiana

Jumat, 03 Agustus 2012

Kaya Dengan Tradisi Membuat Ramadhan Di Indonesia Berbeda



Bulan Ramadhan sangatlah istimewa bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, hal itu bisa dlihat dari bagaimana antusiasnya masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan tersebut dengan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah dilakukan dibulan-bulan yang lain.
Tradisi dan budaya di Indonesia ketika bulan Ramadhan sangat banyak dan berfariatif, itu yang menbuat bulan Ramadhan di Indonesia berbeda dengan negara-negara yang lain, meski setiap negara mempunyai tradisi atau kebiasaan berbeda-beda dalam menyambut bulan Ramadhan, tetaplah negara Indonesia mempunyai cara yang paling unik dalam menyambut bulan tersebut.
Negara Mesir contohnya, masyarakat mesir ketika datang bulan Ramadhan beramai-ramai memasang hiasan dan lampu “Fanus” dirumah mereka yang sudah menjadi tradisi sejak dulu, namun kegiatan sehari-hari dalam bulan Ramadhan bisa dibilang biasa-biasa saja, Ramadhan di Mesir seolah-olah hanya terlihat ketika menjelang maghrib dan waktu Isya’ saja.
Ketika menjelang maghrib banyak masyarakat Mesir berkumpul di masjid dan tempat-tempat yang telah disediakan guna persiapkan buka puasa bersama, kemuadian pada waktu isya’ masyarakat Mesir berbondong-bondong kemasjid untuk sholat tarawih berjamaah selebihnya terlihat biasa-biasa saja.
Berbeda jauh dengan Indonesia dalam menghidupkan bulan Ramadhan, hampir dari pagi hingga pagi lagi suasana Ramadhan di Indonesia terasa spesial.
Mulai pagi suasana sangat berbeda dibanding dengan bulan yang lain ketika melihat para pelajar ke sekolah untuk mengikuti pengajian yang biasa disebut “pondok Ramadhan” kemudian sore menjelang Maghrib banyak masyarakat Indonesia yang hanya sekedar jalan-jalan sambil menunggu buka puasa yang biasa di sebut “Ngabuburit”, tidak hanya itu, setelah shalat tarawih sebagian masyarakat Indonesia berkumpul di masjid dan mengaji Al-qur’an yang biasa disebut “Tadarus”, kemudian menjelang pagi sebagian pemuda keliling kampung dengan berbagai macam cara untuk membangunkan tetangganya agar tidak telat sahur.
Seperti itulah kebiasaaan unik masyarakat Indonesia dalam menghidupkan bulan ramadhan yang tidak ada dinegara-negara lain, sehingga membuat warganya yang di luar negeri merasa kangen akan tradisi-trdisi tersebut, bahkan mungkin saja orang asing yang pernah tinggal di Indonesia juga merasa kangen dengan tradisi-tradisi tersebut.

Sumber : Kompasiana

Selasa, 10 Juli 2012

“Megengan” Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan



Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan Ramadhan, megengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya menahan. Ini merupakan suatu peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa tersebut.
Adapun kegiatannya sangat bermacam-macam sesuai dengan adat daerah setempat, tapi umumnya masyarakat Jawa biasanya berbondong-bondong untuk berziarah kubur, membersihkannya serta menaburi bunga diatasnya dan tidak lupa mendoa’akannya serta ada juga yang membacakan yasin dan tahlil, kemudian Masak besar untuk dibagikan kepada sanak famili dan pada malam harinya mengadakan selamatan atau kenduri dengan mengundang para tetangga untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal, ada juga yang selamatan atau kendurinya diadakan bersama-sama oleh seluruh warga setempat dilanggar/mushola.
Seiring berjalannya waktu tradisi megengan sendiri sudah mulai sedikit ditinggalkan, mungkin tidak bagi masyarakat desa karena tradisi ini masih sangat kental, melekat dan masih dianggap sakral tapi jika menengok masyarakat kota mungkin sudah banyak yang meninggalkan tradisi para leluhurnya ini karena berbagai alasan salah satunya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Yang harus difahami terlebih dahulu, megengan berada dalam ranah sosial-kultural (kemasyarakatan dan ke budayaan) yang mengacu pada aspek kemaslahatan dan tidak bisa dilabeli dengan istilah bid’ah. Orang sedekah dengan membawa ambeng (beragam jenis makanan) itu jelas baik dan bermanfaat bagi yang masih hidup, dan do’a-do’a sangat bermanfaat bagi yang sudah meninggal dunia, jadi megengan tidak hanya bermanfaat bagi yang masih hidup tapi juga bermanfaat bagi yang sudah meninggal dunia.
Tradisi ini adalah warisan leluhur yang sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan. didalamnya mengandung nilai-nilai yang sungguh sangat luar biasa seperti cara berhubungan baik antara manusia dengan manusia, manusia dangan alam ghaib serta manusia dangan tuhannya.
Islam Jawa memang memiliki banyak tradisi yang khas dalam implementasi Islam, tradisi megengan ini sungguh merupakan salah satu tradisi khas yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain.
Megengan sebagai sebuah perayaan dan rasa antusias dalam menyambut bulan yang penuh barokah, bulan yang ditunggu-tunggu dan bulan yang didalamnya terdapat malam “lailatul qodar” yaitu satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an yang berbunyi “Lailatul Qodri khoirun min alfi sahr” yang artinya satu malam lailatul qodar lebih baik dari pada seribu bulan, menurut penulis.

Sumber : Kompasiana
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India