Selasa, 26 Februari 2013

Luxor: Napak Tilas Peninggalan Fir’aun yang Mencengangkan (Part II)


Berkat alarm handphone, saya terbangun jam 03.30 kemudian mandi. Sayup-sayup suara Al-Qur’an terdengar dari luar hotel, jendela yang ada dipojok ruangan sedikit saya buka membuat lantunan Al-Qur?n dari masjid sekitar menjadi tambah jelas, semilir hawa dingin masuk kamar, hati ini larut dalam suasana. Suasana rindu akan tanah air, suasana yang tidak pernah saya temui di Kairo, dengan hati yang sangat susah dijelaskan dengan tulisan, saya panjatkan doa untuk ke Dua orang tua yang ada di tanah air semoga selalu diberi kesehatan dan salalu bahagia dalam Ridho-NYA. Amin…
Satu jam Lima Belas menit kemudian suara adzan bersahut-sahutan dari berbagai sudut kota, tanda masuk waktu sholat subuh, waktu sholat subuh diluxor lebih cepat Lima menit dari pada Kairo. seperti dijadwal, saya harus turun kerestoran di lantai bawah hotel tepat jam Enam pagi untuk sarapan dan Satu jam kemudian  perjalanan akan dimulai untuk hari ini.
Bus yang sama sudah menunggu kami sebelum jam Tujuh. Tujuan pertama hari ini adalah Valley of the kings “kota kematian” , tempat di mana semua penerus Dewa Amun dimakamkan bersama kekayaan yang dapat dibawa ke kehidupan abadi (menurut kepercayaan mereka). Menyimpan catatan koleksi seni dan catatan arkeologis Mesir purba yang berlimpah, sebagian bahkan dirunut kembali sampai 3000 SM. Penggalian terakhir dilakukan atas makam Fir’aun kecil, Tutankhamun, yang penuh dengan perhiasan emas, patung dan surat berharga.
Lokasi ini seperti bukit yang melingkar dan ditengah-tengahnya terdapat banyak lorong masuk kedalam tanah layaknya goa yang indah, dinding-dindingnya terukir lukisan bergambar kisah kehidupan dan tertulis sebuah cerita dengan huruf hieroglyps yang sangat indah dan warna warni, konon pewarnanya terbuat dari bahan alami dari tumbuh-tumbuhan yang terjaga hingga saat ini, pada ujung terowongan terdapat bongkahan batu yang sangat besar nan indah layaknya peti mati, dan tempat itulah jasad raja atau keluarganya disimpan sebelum dipindahkan, sayangnya dilokasi itu tidak diperkenankan untuk mengambil gambar baik dari kamera, hendycam atau bahkan dari handphone.
Ada sekitar 62 terowongan yang ditemukan dan hanya separuhnya saja yang diketahui pemiliknya, diantaranya : Ramses VII, Ramses IV, Son of Ramses III, Ramses XI, Son of Ramses II, Ramses XI, Ramses II, Merenptah, Ramses V & VI, Amenmeses, Ramses III, Bay, Tausert & Setnakht, Sety II, Ramses I, Sety I, Ramses X, Ramses Mentuherkhepeshef, Thutmes III, Amenhetep II, Maiherperi, Thutmes I, Hatshepsut Meryet-Ra, Thutmes IV, Yuya & Thuya, Siptah, Amarna Chace, Horemnep, Sitra dan yang terakhir Tutankhamun.


Tidak jauh dari Valley of the kings, Bus mengantar kami ke Hatshepsut Temple peninggalan Dinasti XVIII, menggambarkan bahwa kelahiranya yang penuh keajaiban, karena sebab bersatunya Ratu Ahmes dan Dewa Amun (menurut kepercayaan Mesir Kuno).
Sebuah kuil yang terdiri dari Tiga lantai yang tidak biasa, bangunan langsung menempel gunung batu yang tandus serta amat jauh dari nuansa kehidupan makhluk baik hewan maupun tumbuhan. bangunan yang disangga tiang-tiang besar dan kokoh ditengahnya terdapat patung-patung membuat bangunan ini sangat berbeda dengan temple lainya yang ada di luxor.
Setelah selesai di Hatshepsut Temple ini, peserta diajak menuju ke tempat pembuatan Alabaster. Tidak jauh dari Hatshepsut Temple, berdiri banyak sekali usaha produksi Alabaster. Alabaster merupakan hasil kerajinan khas di kawasan itu. Terbuat dari bebatuan yang keras dan kuat, bisa menjadi patung-patung kecil, pot atau vas bunga, asbak dan berbagai macam hiasan lainnya.
Saat sampai di salah satu tempat produksi Alabaster itu, sang pemilik menunjukkan cara pembuatan Alabaster, lengkap dengan berbagai peralatannya yang banyak sekali macamnya. Pemilik tempat juga menguji kekuatan batu Alabaster dengan mengadukannya secara keras, terbukti tak lecet sedikitpun apalagi patah atau pecah.
Setelah atraksi pembuatan, peserta dipersilakan masuk ke dalam showroom. Di dalamnya terdapat berbagai macam Alabaster yang sudah jadi. Bahan bakunya pun berwarna-warni. Bahkan beberapa saat sempat dipertunjukkan bahwa batu-batu tertentu dapat menyala saat gelap. Pintu dan jendela ditutup rapat, lalu listrik dimatikan. Beberapa orang sempat menjerit kaget, tapi ternyata itu untuk menunjukkan bahwa ada batu yang bisa menyala. Saat tiba waktunya kembali ke bus, beberapa orang nampak membawa Alabster, hasil pembelian dari sang pemilik. Perjalanan pun dilanjutkan kembali.


Habou Temple menjadi lokasi selanjutnya, bangunan yang hampir sama dengan yang kuil lainya, terdiri dari beberapa bangunan yang didirikan dari batu-batu besar nan keras, berbentuk tiang-tiang besar dan patung-patung besar serta beberapa ruangan berukir indah yang mengaambarkan kejadian, legenda atau dongeng di jaman mesir kuno.
Karena sudah terlalu siang bus bergerak menuju hotel, namun sebelum sampai hotel bus berhenti di pinggir jalan yang dekat dengan Dua patung besar setinggi ± 70 kaki (± 20 m) yang dikenal sebagai Kolossi Memnon, dua patung peninggalan Amenhotep III, ditempat ini tidak perlu pakai biaya tiket masuk, kami hanya foto-foto tanpa mendengar penjelasan dari Guide seperti ditempat-tempat yang lain.
Sesampainya dihotel kami mendapat waktu sekitar Dua jam untuk istirahat dan makan siang, sebelum perjalan dilanjutkan ke Karnak Temple yang tidak jauh dari hotel yang kami tempati.
Meski sebelumnya sudah mengunjungi karnak temple untuk menyaksikan parade sound and light, ke karnak kali ini tetap menarik, sudut-sudut  kuil terlihat lebih jelas dari sebelumnya, bagian paling depan berjejer puluhan patung singa berkepala kambing, setelah melewati gerbang kami melewati tiang-tiang besar yang berukir indah dan lebih dalam lagi kami melihat berderet patung-patung dewa yang dipuja oleh orang mesir kuno ada juga patung raja-raja dan para istrinya.


Karnak temple merupakan tempat ibadah dizaman mesir kuno,  Dibagian paling dalam terdapat kolam yang sangat luas, dinamakan Buhairah Muqaddasah (danau suci), meski berada di tengah-tengah daerah yang tandus yang kanan kirinya lebih banyak gurun dan bebatuan, tapi airnya tetap jernih dan tidak berkurang.
Setelah magrib kami bergerak ke hotel, acara selanjutnya adalah makan-makan dan pesta tapi saya lebih memilih ke cafe untuk menonton El Classico sambil menikmati sahlab (minuman kelapa hangat)  yang menurut saya sahlab Luxor lebih enak dari pada sahlab yang ada di cafe Kairo, bersama penduduk luxor saya berteriak larut dalam susana tegang yang disudahi pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona dengan skor (1-1).
Sebelum kembali ke hotel saya sempat berjalan bertolak dari arah jalan kehotel, suasana sunyi dan hening, sangat berbeda dengan kairo, selanjutnya saya kehotel dan istirahat untuk mengumpulkan tenaga. sebelum meninggalkan luxor menuju Aswan esok harinya yang masih menyisakan separuh tempat wisata yang ada didalam jadwal.


Sumber : Kompasiana.com




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India