Tampilkan postingan dengan label Asing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asing. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

Uniknya Tarawih di Mesir



Adat atau kebiasaan selalu menghadirkan sesuatu yang berbeda di setiap negara, bahkan tidak jarang akan menjadi ciri khas suatu negara tersebut. Seperti yang saya lihat di negara Mesir, beberapa hal unik seputar salat tarawih sebagai berikut:

1. Imam salat tarawih hafal Al-Qur'an
Pada umumnya imam salat tarawih di masjid-masjid Mesir adalah orang pilihan yang hafal Al-QUr'an, terlebih dimasjid yang terkenal contohnya masjid Al-Azhar, imam dimasjid ini tidak hanya hafal Al-Qur'an, selain suaranya yang merdu, dia juga sangat menguasai "Qira'ah" yaitu aneka ragam cara baca Al-Qur'an yang membuat berbeda dengan masjid-masjid lain. 

2. Satu juz setiap hari
Seperti halnya di Indonesia, jumlah rakaat dalam salat tarawih di Mesir ada yang Delapan raka'at dan ada yang Dua Puluh raka'at. Meskipun beda jumlah Raka'at hampir semuanya menghatamkan Satu juz setiap malam, ada juga masjid yang menggunakan surat-surat pendek atau potongan-potongan ayat tapi itu hanya sedikit dari sekian banyak masjid di Mesir, bahkan ada di daerah Muqattam Cairo yang menghatamkan Empat juz semalam.

3. Ma'mum memegang Al-qur'an ketika salat
Hal unik lainya adalah banyaknya makmum salat tarawih yang membawa Al-Qur'an dan menyimak sang imam yang hampir semuanya hafal Al-Qur'an. Tidak hanya mendengar sang imam melantunkan ayat-ayat dan memahami maknanya ketika salat tetapi juga menyimak dan membenarkan sang imam jika terdapat kekeliruan dalam membaca, seperti dalam gambar diatas. 

4. Ada petugas yang menyediakan minum
Ini terjadi di masjid Al-azhar Mesir dan belum pernah saya lihat ditempat lain, pada umumnya masjid-masjid di Mesir menyediakan air minum yang diletakkan disudut-sudut ruangan, berbeda dengan masjid Al-Azhar yang ada panitianya untuk membagikan minuman ketika salat tarawih berlangsung, air minum yang dimasukkan botol diletakkan disamping jamaah yang sedang shalat, ini sangat membantu menghilangkan rasa haus dan mengurangi rasa capek yang notabene salat tarawih di sana dilaksanakan Dua Puluh raka'at dan menghatamkan Satu juz dalam semalam.

Sumber : Kompasiana

Rabu, 15 Agustus 2012

Puluhan Ribu Orang Berburu "Lailatul Qodar" Bersama Syeikh Jibril di Masjid Tertua Mesir



Salah satu hal terunik di negara Mesir ketika bulan Ramadhan adalah Kumpulnya puluhan ribu orang untuk shalat tarawih berjamaah di Masjid tertua, yaitu masjid Amru bin Ash pada malam 27 Ramadhan.
Sudah menjadi adat atau kebiasaan setiap tanggal 26 Ramadhan atau yang biasa disebut malam 27 Ramadhan, masjid Amru bin Ash didatangi banyak orang baik dari kota Kairo atupun luar kota dengan berbondong-bondong menuju satu tempat untuk melakukan salat tarawih bersama. Bersama Syeikh yang sangat terkenal bagi masyarakat Mesir yaitu Syeikh Jibril.
Kemerduan suara Syeikh Jibril dalam melantunkan Ayat-ayat Al-qur'an menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Mesir, apalagi bertempat dimasjid tertua di Mesir dan dilaksanakan tepat pada malam ganjil yang sangat mungkin akan bersamaan dengan turunnya malam "Lailatur Qodar" satu malam yang lebih mulia dibanding seribu bulan.
Syeikh Jibril bukanlah imam terawih tetap di masjid Amru bin Ash, beliau menjadi imam hanya sekali selama bulan ramadhan selebihnya menjadi imam dimasjid lain bahkan di luar negeri. Masyarakat Mesir seolah-olah tidak mau kelihangan kesempatan emas ini, berjamaah dengan pemilik suara emas ditempat bersejarah dan didalam waktu sepuluh hari terkhir dari bulan Ramadhan. Jamaah setiap tahunnya mencapai puluhan ribu, shaf shalat meluber keluar area masjid hingga ratusan meter yang memaksa seluruh jalan di daerah sekitar ditutup dan digunakan untuk tempat shalat, bahkan banyak masyarakat yang rela berangkat siang hari hanya untuk mendapatkan shaf shalat yang paling depan.


Terawih dengan syeikh Jibril di masjid yang dibangun sahabat Amru bin Ash ini memiliki nuansa tersendiri. Qunut di shalat witirnya mamakan waktu kurang lebih satu jam, Dikesempatan itu sheikh Jibril berdoa untuk semua permasalahan umat Islam. Jodoh, rizqi hingga pertolongan Allah agar umat Islam di seluruh dunia segera terbebas dari masalah-masalahpun tidak luput dari munajatnya. Tidak jarang para jamaah menangis tersedu-sedu diwaktu qunut berlangsung. 
Nama lengkap syeikh Jibril adalah Muhammad As-Sayyid Husain Jibril, dilahirkan di daerah Qalyubiyah Mesir, seorang qari' yang dikenal memiliki suara merdu yang bayak dirindukan umat Islam diberbagai tempat. Laki- laki yang telah menyelesaikan Lisense difakultas Syariah Wal Qanun di universitas Al-Azhar pernah menyabet juara lomba menghafal Al-Qur'an tingkat Internasional di Malaysia tahun 1981 dan di Saudi Arabia tahun 1986.



Sumber : Kompasiana

Jumat, 06 Juli 2012

Di Mesir semua orang Asia disebut China



Siang ini memang tidak seperti biasanya, cuaca Mesir kali ini mencapai 30 derajat celcius, suatu hal aneh yang terjadi di musim dingin tahun ini. Untuk mengisi liburan akhir pekan, kami sekeluarga dari Maadi Cairo memutuskan untuk jalan-jalan ke kota Qonatir Al-Khoiriyah yang jaraknya sekitar 25 kilo meter dari tempat tinggal kami, hanya berbekal peta dari laptop kami berangkat dengan mobil sedan putih yang sedikit kusam tersapu oleh debu-debu gurun, meskipun sempat tersesat kami bersyukur karena sampai juga ketempat tujuan dengan selamat.
Sesampainya di Qonatir Al-Khoriyah, kami melihat banyak orang disana, mereka bukan penduduk daerah setempat melainkan orang dari kampung lain, bahkan banyak juga dari luar kota. Di Qonatir Al-Khoiriyah terdapat bendungan yang indah dimana terdapat  dua cabang sungai Nil yang disebut cabang Rosetta dan cabang damietta, sebagai sarana untuk mengendalikan aliran air kedalam Delta Nil, sehingga irigasi di daerah Delta dapat dikendalikan sepanjang tahun, bukan musiman. Disana juga terdapat taman-taman indah komersil dengan tiket masuk yang sangat murah, 2 LE sampai 3 LE. Para penduduk setempat juga banyak menyewakan kuda, sepeda dan motor dengan harga terjangkau. Bagi yang mempunyai hoby mancing disana bisa jadi tempat yang menyenangkan.
Setelah mendapatkan tempat parkir sebagian dari kami menyewa kuda untuk menjelajahi indahnya bendungan yang tampak gagah itu dan sebagianya memilih untuk jalan kaki sambil menjepretkan kameranya disana-sini.
Kami melihat keramahan warga ataupun pengunjung lainya disana, tidak jarang mereka melemparkan senyum pada kami sebagai tanda selamat datang, ada juga yang berani langsung menyapa dengan mengucapkan “welcome to Egypt”. kami sangat senang disana mendapati orang-orang yang ramah ditempat yang indah.
Sepanjang bendungan kami berkali-kali harus tersenyum untuk membalas senyuman dari orang yang kami jumpai, tidak jarang kami mendengar kata “ni hao” bahasa China yang berarti apa kabar?. Tiba-tiba datang tiga anak umurnya sekitar belasan tahun, mereka minta difoto, dengan senang hati pula kami memotret mereka bertiga dan memperlihatkan hasilnya dikamera, meraka tampak gembira sambil mengangkat ibu jarinya kearah kami sebagai tanda foto itu bagus. kemudian mereka bertanya “Shiny?” yang berati apakah kamu orang China?, kami menjawab menggunakan bahasa arab juga “La, ana Andunisy”, Bukan, kami orang Indonesia. mendengar kami menjawab dengan bahasa Arab, mereka menjadi tertarik dan bertanya kembali “kalim arobi?” bisa bahasa Arab?, kamipun menjawab “Aiwa” yang berarti iya. Obrolan kami berlanjut panjang, mulai dari berkenalan sampai mereka bertanya, Indonesia itu mana? apakah sampingnya negara China?, seolah-olah orang yang mempunyai fisik asia seperti kami ini, semuanya mereka anggap orang China dan ini tidak terjadi di daerah Qonatir Al-Khoriyah saja, ditempat lain kami juga kami medapati hal yang serupa, sering disapa dengan kalimat “ni hao”.
Kami berfikir, apakah karena perdagangan China lebih menguasai pasar Mesir dari pada negara lainya, sehingga ini yang menyebabkan orang Mesir lebih tahu China dari pada yang lainya. Padahal Orang Indonesia tidak kalah banyak dari orang China yang tinggal di Mesir. Filipina, Thailan dan Singapura juga tidak sedikit, tetap saja kebanyakan orang Mesir menganggap semua orang asia adalah orang China.
Jika kita ke pasar ataupun ke toko-toko, barang-barang dari China akan mudah kita temukan, beraneka bentuk dan warna, dari tusuk gigi sampai panci. Jika anda sempat jalan-jalan ke Mesir, Amati dulu belanjaan anda apakah buatan Mesir? karena banyak juga souvenir-souvenir khas Mesir yang buatan China.

Sumber : Kompasiana
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India