Selasa, 26 Februari 2013

Luxor: Napak Tilas Peninggalan Fir’aun yang Mencengangkan (Part II)


Berkat alarm handphone, saya terbangun jam 03.30 kemudian mandi. Sayup-sayup suara Al-Qur’an terdengar dari luar hotel, jendela yang ada dipojok ruangan sedikit saya buka membuat lantunan Al-Qur?n dari masjid sekitar menjadi tambah jelas, semilir hawa dingin masuk kamar, hati ini larut dalam suasana. Suasana rindu akan tanah air, suasana yang tidak pernah saya temui di Kairo, dengan hati yang sangat susah dijelaskan dengan tulisan, saya panjatkan doa untuk ke Dua orang tua yang ada di tanah air semoga selalu diberi kesehatan dan salalu bahagia dalam Ridho-NYA. Amin…
Satu jam Lima Belas menit kemudian suara adzan bersahut-sahutan dari berbagai sudut kota, tanda masuk waktu sholat subuh, waktu sholat subuh diluxor lebih cepat Lima menit dari pada Kairo. seperti dijadwal, saya harus turun kerestoran di lantai bawah hotel tepat jam Enam pagi untuk sarapan dan Satu jam kemudian  perjalanan akan dimulai untuk hari ini.
Bus yang sama sudah menunggu kami sebelum jam Tujuh. Tujuan pertama hari ini adalah Valley of the kings “kota kematian” , tempat di mana semua penerus Dewa Amun dimakamkan bersama kekayaan yang dapat dibawa ke kehidupan abadi (menurut kepercayaan mereka). Menyimpan catatan koleksi seni dan catatan arkeologis Mesir purba yang berlimpah, sebagian bahkan dirunut kembali sampai 3000 SM. Penggalian terakhir dilakukan atas makam Fir’aun kecil, Tutankhamun, yang penuh dengan perhiasan emas, patung dan surat berharga.
Lokasi ini seperti bukit yang melingkar dan ditengah-tengahnya terdapat banyak lorong masuk kedalam tanah layaknya goa yang indah, dinding-dindingnya terukir lukisan bergambar kisah kehidupan dan tertulis sebuah cerita dengan huruf hieroglyps yang sangat indah dan warna warni, konon pewarnanya terbuat dari bahan alami dari tumbuh-tumbuhan yang terjaga hingga saat ini, pada ujung terowongan terdapat bongkahan batu yang sangat besar nan indah layaknya peti mati, dan tempat itulah jasad raja atau keluarganya disimpan sebelum dipindahkan, sayangnya dilokasi itu tidak diperkenankan untuk mengambil gambar baik dari kamera, hendycam atau bahkan dari handphone.
Ada sekitar 62 terowongan yang ditemukan dan hanya separuhnya saja yang diketahui pemiliknya, diantaranya : Ramses VII, Ramses IV, Son of Ramses III, Ramses XI, Son of Ramses II, Ramses XI, Ramses II, Merenptah, Ramses V & VI, Amenmeses, Ramses III, Bay, Tausert & Setnakht, Sety II, Ramses I, Sety I, Ramses X, Ramses Mentuherkhepeshef, Thutmes III, Amenhetep II, Maiherperi, Thutmes I, Hatshepsut Meryet-Ra, Thutmes IV, Yuya & Thuya, Siptah, Amarna Chace, Horemnep, Sitra dan yang terakhir Tutankhamun.


Tidak jauh dari Valley of the kings, Bus mengantar kami ke Hatshepsut Temple peninggalan Dinasti XVIII, menggambarkan bahwa kelahiranya yang penuh keajaiban, karena sebab bersatunya Ratu Ahmes dan Dewa Amun (menurut kepercayaan Mesir Kuno).
Sebuah kuil yang terdiri dari Tiga lantai yang tidak biasa, bangunan langsung menempel gunung batu yang tandus serta amat jauh dari nuansa kehidupan makhluk baik hewan maupun tumbuhan. bangunan yang disangga tiang-tiang besar dan kokoh ditengahnya terdapat patung-patung membuat bangunan ini sangat berbeda dengan temple lainya yang ada di luxor.
Setelah selesai di Hatshepsut Temple ini, peserta diajak menuju ke tempat pembuatan Alabaster. Tidak jauh dari Hatshepsut Temple, berdiri banyak sekali usaha produksi Alabaster. Alabaster merupakan hasil kerajinan khas di kawasan itu. Terbuat dari bebatuan yang keras dan kuat, bisa menjadi patung-patung kecil, pot atau vas bunga, asbak dan berbagai macam hiasan lainnya.
Saat sampai di salah satu tempat produksi Alabaster itu, sang pemilik menunjukkan cara pembuatan Alabaster, lengkap dengan berbagai peralatannya yang banyak sekali macamnya. Pemilik tempat juga menguji kekuatan batu Alabaster dengan mengadukannya secara keras, terbukti tak lecet sedikitpun apalagi patah atau pecah.
Setelah atraksi pembuatan, peserta dipersilakan masuk ke dalam showroom. Di dalamnya terdapat berbagai macam Alabaster yang sudah jadi. Bahan bakunya pun berwarna-warni. Bahkan beberapa saat sempat dipertunjukkan bahwa batu-batu tertentu dapat menyala saat gelap. Pintu dan jendela ditutup rapat, lalu listrik dimatikan. Beberapa orang sempat menjerit kaget, tapi ternyata itu untuk menunjukkan bahwa ada batu yang bisa menyala. Saat tiba waktunya kembali ke bus, beberapa orang nampak membawa Alabster, hasil pembelian dari sang pemilik. Perjalanan pun dilanjutkan kembali.


Habou Temple menjadi lokasi selanjutnya, bangunan yang hampir sama dengan yang kuil lainya, terdiri dari beberapa bangunan yang didirikan dari batu-batu besar nan keras, berbentuk tiang-tiang besar dan patung-patung besar serta beberapa ruangan berukir indah yang mengaambarkan kejadian, legenda atau dongeng di jaman mesir kuno.
Karena sudah terlalu siang bus bergerak menuju hotel, namun sebelum sampai hotel bus berhenti di pinggir jalan yang dekat dengan Dua patung besar setinggi ± 70 kaki (± 20 m) yang dikenal sebagai Kolossi Memnon, dua patung peninggalan Amenhotep III, ditempat ini tidak perlu pakai biaya tiket masuk, kami hanya foto-foto tanpa mendengar penjelasan dari Guide seperti ditempat-tempat yang lain.
Sesampainya dihotel kami mendapat waktu sekitar Dua jam untuk istirahat dan makan siang, sebelum perjalan dilanjutkan ke Karnak Temple yang tidak jauh dari hotel yang kami tempati.
Meski sebelumnya sudah mengunjungi karnak temple untuk menyaksikan parade sound and light, ke karnak kali ini tetap menarik, sudut-sudut  kuil terlihat lebih jelas dari sebelumnya, bagian paling depan berjejer puluhan patung singa berkepala kambing, setelah melewati gerbang kami melewati tiang-tiang besar yang berukir indah dan lebih dalam lagi kami melihat berderet patung-patung dewa yang dipuja oleh orang mesir kuno ada juga patung raja-raja dan para istrinya.


Karnak temple merupakan tempat ibadah dizaman mesir kuno,  Dibagian paling dalam terdapat kolam yang sangat luas, dinamakan Buhairah Muqaddasah (danau suci), meski berada di tengah-tengah daerah yang tandus yang kanan kirinya lebih banyak gurun dan bebatuan, tapi airnya tetap jernih dan tidak berkurang.
Setelah magrib kami bergerak ke hotel, acara selanjutnya adalah makan-makan dan pesta tapi saya lebih memilih ke cafe untuk menonton El Classico sambil menikmati sahlab (minuman kelapa hangat)  yang menurut saya sahlab Luxor lebih enak dari pada sahlab yang ada di cafe Kairo, bersama penduduk luxor saya berteriak larut dalam susana tegang yang disudahi pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona dengan skor (1-1).
Sebelum kembali ke hotel saya sempat berjalan bertolak dari arah jalan kehotel, suasana sunyi dan hening, sangat berbeda dengan kairo, selanjutnya saya kehotel dan istirahat untuk mengumpulkan tenaga. sebelum meninggalkan luxor menuju Aswan esok harinya yang masih menyisakan separuh tempat wisata yang ada didalam jadwal.


Sumber : Kompasiana.com




Sabtu, 23 Februari 2013

Luxor: Napak Tilas Peninggalan Fir’aun yang Mencengangkan (Part I)



Sejarah Mesir kuno telah dimulai pada sekitar permulaan tahun 3400 SM, dengan dimulainya budaya bercocok tanam dan  berakhirnya sifat hidup nomaden (berpindah-pindah) hingga terbentuk masyarakat baru di Mesir. Masyarakat yang baru terbentuk ini kemudian berkembang hingga membentuk kerajaan-kerajaan kecil. Menjelang tahun 3000 SM, kerajaan-kerajaan kecil yang ada itu terkelompok menjadi dua bagian kerajaan besar yaitu: Mesir Hulu di bagian selatan dengan ibukota Thebes (sekarang Luxor) dan Mesir Hilir di bagian utara dengan ibukota Memphis. Kedua kerajaan ini kemudian dapat dipersatukan oleh Menes, raja Mesir Hilir, dengan Memphis sebagai ibukota baru. Pada masa raja Menes ini juga, huruf Hieroglyphics diciptakan.
Kerajaan dinasti pertama didirikan di kota ini. Tapi sejak berdirinya kerajaan baru pada 1570 SM, ibukota Mesir kuno berpindah dari Memphis ke Thebes. Meskipun demikian, kota Memphis tetap merupakan tempat tinggal para pembesar dan pejabat kerajaan.
Selama rentang waktu 2250 tahun Mesir kuno telah diperintah oleh 330 Fir`aun (Pharaoh) yang terbagi dalam 31 dinasti. Kekuasaan raja-raja dinasti Mesir berakhir pada tahun 332 SM dengan kedatangan Iskandar Agung (Alexander the Great) dari Macedonia, putra Raja Philip dan murid Aristoteles. Pada saat itulah Mesir mulai memasuki babak baru dalam perjalanan sejarahnya dengan masuknya gelombang Hellenisme dari Yunani.
Luxor sekarang ini menjadi sebuah kota modern yang terletak di kedua tepi timur dan barat sungai nil di Mesir, kota subur yang menawarkan banyak tempat wisata menarik, hampir semuanya peninggalan raja-raja Mesir yang sangat mengagumkan dan sisa dari peradaban yang telah mencuri perhatian dunia.
Namun tidak semua wisatawan berkesempatan mengunjunginya saat berlibur ke Mesir, bukan karena apa-apa melainkan karena jarak antara Luxor dengan kairo sangatlah jauh, sehingga membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama di Mesir.
Cerita Fir’aun yang melegenda dan sisa peradaban tertua yang dimiliki Mesir membuat saya sangat tertarik untuk bisa mengunjunginya, dengan mendaftarkan diri di sebuah organisasi yang menghimpun mahasiswa asing di Mesir, saya bisa berangkat dengan biaya yang sangat murah dengan fasilitas mewah.


 Tepatnya tanggal 28 Januari 2013, kami serombongan yang terdiri dari berbagai mahasiswa asing di Mesir seperti Indonesia, vietnam, Turky, Bosnia, Syiria, Maroko, Yaman dan yang lainnya, berkumpul di stasiun kereta Ramses pada jam Sepuluh malam, kereta dijadwalkan berangkat ke Luxor jam Satu dini hari, namun karena ada sedikit kendala dengan keretanya, kami harus tertunda lebih dari Satu jam setengah. Digerbong kereta nomer Tujuh kami berkumpul satu rombongan.
Tiga Belas jam dikereta membuat kami jenuh dan bosan, sampai akhirnya kereta berhenti di stasiun yang kanan dan kirinya terdapat tulisan besar “Mahathoh Luxor” dalam bahasa indonesia yang berati stasiun Luxor, dengan menarik nafas panjang yang pelan-pelan dikeluarkan lagi sambil berkata “Alhamdulillah”, akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan.
Didepan stasiun kereta luxor kami serombongan sudah ditunggu sebuah bis travel yang sangat bagus, pada akhirnya kami diantar ke hotel karnak, sebuah hotel bintang tiga yang seharinya 250 LE untuk Double bed, sebelum masuk hotel ketua rombongan mengingatkan kami akan agenda yang telah dibuat, dengan pakaian dan muka yang lusuh karena kelamaan di kereta saya masuk hotel dan langsung menuju kamar bernomer 311 yang telah dibagi sebelumnya.
Setelah menaruh koper dan cuci muka saya langsung menyusul rombongan yang sebagian besar sudah berkumpul di restoran dilantai paling dasar untuk makan siang, dan selesainya itu langsung kembali ke bus yang telah menunggu di depan hotel.
Karena terlambatnya jadwal pemberangkatan kereta menyebabkan dirubahnya sebagian jadwal liburan yang telah disusun. Bus membawa kami ketempat tujuan yang pertama yaitu parade sound And light di Karnak temple.


Menjelang tenggelamnya matahari di ufuk barat, rombongan kami dan rombongan yang lainya sudah berdiri didepan gerbang Karnak temple yang cukup gelap. Tiba-tiba lampu warna-warni menyala, nampak puluhan patung singa berkepala kambing berjejer-jejer bersamaan bunyi gong yang sangat keras menandai dimulainya parade sound and light, terdengar suara dialog antara raja dengan para punggawa kerajaan sebagai gambaran apa yang kiranya pernah terjadi dimasa lampau lewat sound yang terpasang disudut-sudut kuil.
Tiba-tiba lampu mati dan suara yang tadi terdengar nyaring pun ikut hilang, suasana menjadi sangat sunyi sebelum lampu warna warni yang ada beberapa meter didepan kami menyala, rombongan bergerak masuk kedalam kuil mengikuti lampu yang menyala sambil mendengar cerita percakapan antara raja dan pungawanya dilanjutkan kembali. kali ini bukan patung singa berkepala kambing lagi yang kami lihat melainkan tiang-tiang yang kuat dan kokoh menjulang tinggi nan indah.
Lampu dan suara hilang untuk kedua kalinya, suasana kembali menjadi sunyi dan sangat gelap, kemudian beberapa meter didepan kami ada lampu yang menyoroti patung-patung besar menyeruapai dewa yang di puja-puji oleh orang mesir kuno. Selain itu juga ada dua obelisk yang tinggi. tidak ketinggalan suara percakapan yang membuat suasana lebih dramatis.


Disegmen terakhir, pengunjung dipersilahkan duduk di kursi yang berderet layaknya tempat teater yang berada di salah satu sisi danau suci. Kembali suara dan efaek cahaya di mainkan, kali ini terdengar suara perempuan, anak salah satu raja berdialog dengan ayahnya. Efek cahaya karnak temple yang memantul ke danau dan suara yang menggelegar membuat pengunjung larut dalam suasana.
Dengan bus yang sama kami bergerak menuju ketempat yang ke Dua, kali ini Luxor Temple yang dituju. Tempat ini tidak jauh berbeda dengan tempat sebelumnya, Sebuah kuil besar disoroti lampu warna-warni yang tampak cantik dan menawan tanpa ada suara seperti tempat sebelumnya.
Di bagian depan kuil tampak obelisk yang tinggi berornamen huruf hieroglyp dan dikedua sisi pintu masuk terdapat patung Ramses beserta istrinya yang sangat besar, tidak jauh dari pintu masuk terdapat ruangan persegi berisi deretan patung-patung besar, kemudian ruangan seanjutnya berisi tiang-tiang besar menjulang tinggi yang sangat indah, di tempat paling ujung terdapat kamar-kamar yang didindingnya terukir lukisan yang mengisahkan kehidupan sehari-hari pada zaman dulu.
Karena terlalu terkagum dengan tempat yang dikunjungi lelahpun jadi tidak terasa, hingga ketua rombongan mengingatkan kami bahwa waktu sudah larut malam dan harus kembali ke hotel untuk istirahat menyiapkan energi buat hari berikutnya.


Sumber : Kompasiana.com


Jumat, 14 September 2012

[VIDEO] Fiha Haga Helwa



Lagu "Fiha Haga Helwa" dinyanyikan oleh Riham Abdul Hakim, seorang penyanyi muda Mesir yang memiliki suara yang khas, dikenal oleh masyarakat untuk pertama kalinya melalui film seri "Umi Kultsum" pada waktu kecilnya.
Mulai bernyanyi saat tampil di Theater Cairo Opera House ketika masih umur Dua Belas tahun, hingga saat ini sudah memiliki lebih dari satu album.
Lagu "Fiha Haga Helwa" sering diputar di televisi Mesir, sebagai salah satu lagu terbaik yang dimiliki oleh negeri seribu menara ini.
Lagu-lagu Riham Abdul Hakim juga menjadi soundtrack film-film serial Mesir yang sangat populer seperti "Asal Iswid", "Bilwaraqah wal Qalam" dan "Fiha Haga Helwa".
Adapun liriknya :
فيها حاجه حلوه ... حاجه حلوه بينا
حاجه كل مادا تزيد زياده فيها إنّه
فيها نيّه صافيه ... فيها حاجه دافيه
حاجه بتخليك تتبت فيها ... سنّه سنّه
....................................
================
مصر هي الصبح بدري ... مصر صوت الفجر يدّن
سوبيا فول طعميه كشري ... كوز بطاطا سخنه جداً
....................................
================
مصر أول يوم العيد ... عيديه بومب و لبس جديد
فن سيما و غُنى تياترو ... حفلة تلاته في سيما مترو
....................................
================
موائد الرحمن و فانوس رمضان ... مسلم في بيت مسيحي فطروا
ترنيمه لايقه على تخت غنّى
....................................
================
فيها حاجه حلوه ... حاجه حلوه بينا
حاجه كل مادا تزيد زياده فيها إنّه
فيها نيّه صافيه ... فيها حاجه دافيه
حاجه بتخليك تتبت فيها ... سنّه سنّه
....................................
================
تأيّلة العصرية فى مصر ... ولمه على طبلية فى مصر
مولد السيده و الذكر و الهيصه ... و ركعتين بركه في السيده نفيسه
....................................
================
المشي عالكورنيش و البركه في لقمة عيش ... فرح بلدي و ليلة حنّه....................................
================
فيها حاجه حلوه حاجه حلوه بينا
....................................
================
دي تتعبك ولا بتسيبها
تحيرك برضه حبيبها
على بعضها كدا بعيوبها ... حتــــــــــــــــــــــه من الجنـــــــــــــــــــــه
....................................
فيـــــها حــــاجه حـــــــــــلوه 
================

Videoanya :


Jumat, 07 September 2012

Masjid Hakim bi Amrillah: Syiah Punya Sejarah Panjang di Sini



Dalam sejarah tercatat pada saat Jendral Gawhar Al-Siqili menaklukkan Mesir dibawah arahan khalifah Mu’iz li Dinillah pada tahun 350 H / 969 M, maka dimulailah kehidupan masyarakat Mesir dibawah kendali Dinasti Fathimiyah.
Dinasti ini pasca runtuhnya meninggalkan masjid-masjid bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga sampai saat ini, diantaranya adalah : masjid Al-Azhar, masjid Hakim Bi Amrillah, masjid Juyusyi, masjid Aqmar dan masjid Shaleh Al-Thala’i.
Masjid Hakim Bi Amrillah dibangun oleh khalifah Al-Aziz Billah pada tahun 381 H / 990 M dan diselesaikan putranya yaitu khalifah Hakim Bi Amrillah pada tahun 393 H / 1002 M, oleh karena itu nama masjid di nisbahkan kepada khalifah Hakim bi Amrillah.
Pada masa dinasti Fatimiyah, masjid ini selain digunakan sebagai tempat shalat juga menjadi pusat ilmu setelah masjid Al-Azhar, dimana terdapat pengajian-pengajian keagamaan di sana.
Masjid yang terletak dipermulaan jalan Mu’iz li Dinillah, Hay Gamalea (perkampungan Gamalea) berdekatan dengan dinding utara batas wilayah Dinasti fathimiyah Kairo lama di Mesir. masjid ini menpunyai bentuk berbeda dengan masjid yang lain, yaitu perpaduan antara masjid Ahmad Bin Thoulun dengan masjid Al-Azhar, masjid ini memiliki pelataran besar berbentuk persegi panjang yang dikelilingi oleh rangkaian portico (serambi yang bertiang), tiang panjang yang lebar yang menunjang arcade (gang beratap).
Pelataran besar dan luas dikelilingi oleh Empat ruwaq (ruangan) dan yang paling besar adalah ruwaq qiblat (arah sholat). semua ruwaq itu di tutup dengan atap yang terbuat dari kayu. biasa di sebut Maqshurah. di pelataran tersebut juga terdapat sumur yang airnya pada saat ini masih mengalir dan dipakai untuk berwudhu. serta terdapat dua buah kolam yang berisi air jernih yang sampai saat ini masih terjaga.
Masjid ini juga mempunyai karakteristik tersendiri. pada bagian pintu utama masjid yang dipenuhi oleh aneka bentuk ornament yang terbuat dari batu. pintu ini biasa disebut dengan Madkhol Tidzkari (Gerbang monument). Gerbang monumen tersebut tidak ada yang menyamainya kecuali masjid jami’ Mahdiyah yang terdapat ditunis, yang dibangun pada awal abad 4 H / 10 M. Desain pintu utama ini adalah yang pertama dibuat di masjid yang ada di Mesir.
Mulai zaman dulu hingga saat ini, masjid ini telah mengalami berbagai macam penggunaan, selain digunakan sebagai tempat sholat, masjid ini pernah dijadikan barak militer selama ekspedisi militer Perancis pada abad 12 – 13 H / 18 – 19 M. Setelah itu masjid ini pernah  juga dijadikan sebagai tempat membuat kaca dan tenunan kain sutra oleh kaum dari Syam. Kemudian pada tahun 1286 H / 1880 M dijadikan sebagai museum menyimpan peninggalan-peninggalan Arab. Pernah juga dijadikan sebagai Madrasah Ibtidaiyah ( MI ) Silhadar. Akan tetapi pada tahun 1927 M, masjid ini direnovasi oleh Departemen Perlindungan dan Perawatan Peninggalan Arab.
Masjid Hakim Bi Amrillah sampai saat ini tetap dipakai untuk shalat wajib lima waktu dan shalat Jum’at. Semua bangunannya nampak baru, karena baru diperbaharui oleh Departemen Benda-Benda Lama Mesir, kecuali dua menaranya yang masih utuh dan asli seperti dahulu kala.
Tidak jarang wisatawan dari mancanegara ditemui di masjid ini, kebanyakan dari mereka datang dari Pakistan, India dan Bangladesh. Mereka adalah orang syiah yang tidak akan melewatkan Tiga tempat ketika berkunjung ke Mesir, Tiga tempat yaitu :
1. Masjid Husen (Konon kepala syaidina Husen di kubur di masjid ini)
2. Masjid Al-Azhar
3. Masjid Hakim bi Amrillah

Sumber : Kompasiana

Rabu, 05 September 2012

Masjid Amr bin Ash: Tertua di Afrika Yang Bergaya Yunani



Tatkala Sahabat Amr bin Ash menaklukan Mesir dari tangan bangsa Romawi, Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan untuk memindah ibu kota Mesir yang semula di Iskandariyah (Alexandria) ke kota Fusthat agar lebih dekat dengan masyarakat yang lebih memilih bertempat tinggal di pinggir sepanjang sungai Nil.
Sejak itu pula dibangun Masjid Untuk pertama kalinya di Mesir bahkan yang pertama di benua Afrika pada tahun 21 H / 641 M, dan diberi nama masjid Amr bin Ash yang dinisbatkan kepada panglima perang yang telah berhasil menakluknan Mesir.
Pada awalnya masjid berbentuk memanjang, dindingnya terbuat dari batu bata, atapnya di beri pelepah pohon kurma, tiang-tiangnya dari pohon kurma juga dan memiliki Enam pintu. Namun bangunan awal masjid ini sudah tidak ada yang tersisa karena para Pemimpin Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Turki Usmani saat berkuasa di Mesir telah menaruh perhatian besar terhadap masjid ini sehingga dilakukan perbaikan-perbaikan serta merawat masjid ini dengan sangat baik, khususnya melengkapi masjid ini dengan karpet, permadani dan lampu-lampu hias, sehingga masjid ini kelihatan tampak indah.
Bentuk awal masjid ini sangatlah sederhana, tanpa Mihrab dan menara. Kemudian di rekonstruksi ulang pada masa gubernur Maslama bin Mukhallad Al-Anshori (53 H / 672 M), dengan menambahkan menara, tangga-tangga dan pagar suci yang mengelilingi menara, kemudian diperluas oleh gubernur Abdul Aziz bin Marwan pada tahun 79 H / 698 M, sehingga masjid ini panjangnya 120 meter dan lebarnya 100 meter.


Pada masa Dinasti Fathimiyah, ditambahkan Lima menara untuk pelengkapi masjid yang berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan agar terdengar oleh masyarakat yang berada di sekitar masjid, ditambahkan pula 24 riwaq, 7 didepan, 7 dibelakang 5 disamping bagian Timur dan 5 disamping bagian Barat. Serta ditambahkan lampu-lampu perak cantik yang menambah keindahan suasana di dalam masjid.
Tidak kalah hebatnya, pada masa Dinasti Turki Usmani, ditambahkan Dua menara yang membuat masjid semakin gagah dan ditambahkan juga seni arsitektur pada pilar-pilar yang bergaya Yunani.
Selain diatas, masjid ini telah mengalami renovasi berulang kali, seperti yang tercatat dalam buku sejarah yaitu pada masa sultan Hakim (996-1021 M), pada masa Salahuddin Al-Ayyubi (1171-1193 M), pada masa Baybars (1260-1277 M), pada masa Sultan Qallawun (1280-1290 M), Pada masa Qayt Bay (1469-1496 M), kemudian pada masa Murad Bay Dinasti Turki Usmani (1800 M).
Selain sebagai tempat shalat masjid ini juga sebagai pusat pendidikan Islam pertama di benua Afrika, bahkan dalam sejarah tercatat Imam Syafi’i pernah mengajar di masjid ini.


Sumber :Kompasiana

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India